kontak kami

sandra pratama sutrisno telp. 085624802265

alamat farm :
jl. PLTA cirata no.18 rt.01/04 desa ciharashas kec. cipeundeuy kab. bandung barat jawabarat tel. 022-6971044
email : sandrapratama@ymail.com

http://pratamafarm.blogspot.com/

Rabu, 23 Februari 2011

jika aku menjadi


Jika Aku Menjadi Masyarakat Desa
Saya akan membuka Peternakan Domba “Pratama farm”

Desa merupakan daerah yang berpotensi sebagai penghasil sektor pertanian. Subsektor peternakan dan perikanan merupakan sumber daya yang dapat dimaksimalkan untuk menghasilkan suatu produksi yang dapat menghasilkan pendapatan bagi masyarakat desa tersebut. Kesadaran masyarakat desa yang masih kurang untuk memanfaatkan potensi yang ada di desa menyebabkan masyarakat desa cenderung tertinggal dari masyarakat kota.
Saya sebagai mahasiswa peternakan jika menjadi masyarakat desa akan membuat suatu usaha yang berbasis ekonomi kerakyatan yaitu membuka usaha peternakan domba kemitraan dengan masyarakat yang tidak mempunyai biaya untuk membeli domba. Sistem kemitraan yang d anut yaitu kekeluargaan. Pola kemitraan merupakan bentuk kerjasama antara dua belah pihak ataupun lebih untuk mendapatkan keuntungan atau keberhasilan usaha Peternakan. kemitraan juga merupakan suatu cara untuk mengembangkan usaha lebih besar dan membantu perekonomian masyarakat kecil.
Bentuk kerjasama atau pola kemitraan yang dijalankan Pola kemitraan inti-plasma merupakan kerja sama antara pemilik domba dengan peternak kecil atau peternak yang mempunyai modal sedikit atau tidak mempunyai modal.mereka hanya menyediakan kandang. Setiap kelompok ternak mempunyai koordinator kelompok atau Pembina kelompok.
Setiap kelompok ternak mempunyai koordinator kelompok atau Pembina kelompok. Pola kemitraan Inti-plasma pada satu daerah terdapat 100 ekor Domba Garut dan setiap anggota kelompoknya memelihara 2-5 ekor ternak. Keuntungan yang diperoleh setiap peternak 50%, koordinator 10%, pratama fam 40%. Setiap peternak diberikan domba 2-5 ekor, domba yang siap panen di beli oleh pratama fam, peternak pun boleh menjual domba ke pihak lain asalkan harga lebih tinggi. Domba yang diberikan ada 2 jenis yaitu :
Breeding merupakan ternak yang diberikan untuk pembibitan. Indukan yang diberikan kepada ternak sudah bunting selama satu bulan. Sehingga peternak mempunyai kepastian untuk mendapatkan keuntungan. Peternak akan mendapatkan keuntungan yaitu dari anakan yang dilahirkan indukan. Sistem bagi hasilnya bukan berdasarkan fisik seperti dikalangan masyarakat namun berupai nilai uang (rupiah). Nilai uang yang diperoleh dari berat badan anakan perkilo bobot badan hidup, persatu kilogram dihargai Rp. 35.000,- berdasarkan dari nilai mata uang dinar terhadap rupiah.jadi harga dapat berubah sesuai dengan keadaan mata uang dinar terhadap rupiah. Selain dari dinar faktor penentu harga yaitu inflasi dan kompetitor. Siklus pada inti-plasma yaitu sepuluh bulan pada bulan pertama ternak berada di pratama farm dalam keadaan bunting. Pada bulan kedua ternak berada di Peternak Plasma dalam keadaan bunting.Pada bulan keenam induk lahir, bulan kesembilan rotasi indukan lama diganti dengan indukan baru yang sudah bunting, pada bulan kesupuluh anakan ditarik ke Pratama farm dan pembagian keuntungan. Kompensasi jika ternak tidak bunting yaitu Pratama Farm mengganti biaya pakan selama ternak berada di peternak plasma yaitu sehari seribu untuk satu ekor. Dan mengganti dengan ternak yang bunting tua.
Fattening merupakan kemitraan ternak yang diberikan kepada peternak untuk penggemukan. domba yang diberikan kepada peternak yaitu ternak yang sudah lepas sapih yang berumur sekitar 3 bulan dan panen setiap 5 bulan dan ternak ditarik oleh Pratama Farm menjelang kurban jika domba sudah cukup umur. Pembagian keuntungan pada fattening atau penggemukan yaitu pada saat domba datang ditimbang berat badan awalnya dan pada lima bulan atau saat domba ditarik oleh Pratama Farm ditimbang berat badan akhir. Berat badan akhir dikurangi berat badan awal.
Seleksi calon Peternak mitra yang belum pernah memelihara domba mulai kebingungan manakala domba terkena penyakit misalnya, domba tidak mau makan ataupun domba tiba-tiba mengalami kematian. Pemilik ternak tidak mampu berbuat banyak karena ia pun belum mengerti pengetahuan beternak domba. Tanpa bermaksud meragukan kemampuan peternak desa namun inilah kenyataan yang seringkali ditemukan di lapangan, bahkan karena frustasinya dan tidak mau menanggung kerugian pada akhirnya bisa jadi si pemelihara ternak menjual ternak domba tanpa seijin pemiliknya ataupun ternak diberikan kepada warga lainnya tanpa sepengetahuan pemiliknya, banyak cerita beberapa pemilik ternak yang mengatakan bila mereka merugi karena domba-domba yang dititipkan ke masyarakat banyak yang sakit, hilang, dijual ataupun mati. Disinilah arti pentingnya proses seleksi yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu oleh pemilik ternak terhadap calon peternak mitra yang akan memelihara dombanya nanti. Stelah melakukan seleksi diadakan suatu kursus atau pelatihan mengenai pemeliharaan domba yang baik dan benar.
Dengan memelihara domba masyarakat desa akan mendapatkan suatu penghasilan tambahan bahkan bisa menjadikan penghasilan utama bagi masyarakat desa.

Selasa, 22 Februari 2011

Flu burung, teror bagi peternak unggas

terdengar kembali berita mengenai flu burung atau virus H5N1 akhir-akhir ini banyak diberitakan di beberapa media. Penyebaran virus H5N1 yang telah mematikan ratusan unggas di Desa/Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyebabkan pengusaha telur di Desa tersebut bangkrut dan beralih menjadi buruh tani. ini lah kenyataan bahwa indonesia sebagai negara agraris yang mempunyai potensi dalam bidang peternakan, tetapi masih tidak bisa mengendalikan penyakit unggas yang berbahaya ini padahal H5N1 sudah pernah melanda indonesia sudah lama.

Kamis, 11 November 2010

jual pullet

stok ayam sudah ada 2000 ekor silahkan untuk pemesanan hubungi kami

sedia ayam layer siap bertelur (pullet) fase grower
 12-16 minggu, strain hy-line
untuk pemesanan silahkan hub kami di alat farm atau via email

IMG00485-20100630-0734

manajemen ransum ayam broiler

Pertumbuhan Ayam Pedaging
Ayam broiler adalah ayam jantan atau betina yang umumnya dipanen pada umur 5-6 minggu dengan tujuan sebagi penghasil daging (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Ayam broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai kelebihannya, antara lain hanya 5-6 minggu sudah siap dipanen. Ayam yang dipelihara adalah ayam broiler yakni ayam yang berwarna putih dan cepat tumbuh (Rasyaf, 2008). Ayam broiler memiliki kelebihan dan kelemahan, kelebihannya adalah dagingnya empuk, ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi, efisiensi terhadap pakan cukup tinggi, sebagian besar dari pakan diubah menjadi daging dan pertambahan bobot badan sangat cepat sedangkan kelemahannya adalah memerlukan pemeliharaan secara intensif dan cermat, relatif lebih peka terhadap suatu infeksi penyakit dan sulit beradaptasi (Murtidjo, 1987). Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan dan terhenti sampai mencapai dewasa (Kartasudjana
dan Suprijatna, 2006).

Selasa, 09 November 2010

Harga Ayam dan Telur Jatuh, Pakan Naik Lagi

http://www.trobos.com/show_article.php?rid=10&aid=2567

Tren penurunan harga ayam dan telur terus terjadi di sejumlah daerah. Keada ini diperparah dengan naiknya harga pakan secara bertahap. Djody Hario Seno, peternak broiler (ayam pedaging) asal Bekasi ketika dihubungi TROBOS (25/10) lalu, menginformasikan harga broiler jatuh di kisaran harga Rp 12.000 – Rp 12.500/kg dan itu terjadi mulai 21 Oktober yang sebelumnya di harga Rp 13.000 – Rp 16.000/kg. Untuk titik impas (BEP) sekarang pada kisaran harga Rp 12.000 - Rp 13.000/kg, tergantung kondisi di kandang. “Apalagi keadaan cuaca ekstrim, cukup mempengaruhi juga,” ucapnya.
Ia menilai, daya beli konsumen yang melemah menjadi penyebabnya. “Konsumen pada umumnya keuangnya mulai menipis setelah lebaran,” ungkapnya. Ditambah, lanjutnya, ada kemungkinan over supply (berlebih) pasokan broiler dari sejumlah peternakan sementara permintaan pasar cender

Senin, 08 November 2010

Menghadapi Musim Hujan

tip & Trikwww.poultryindonesia.com. Beternak ayam ras dalam musim hujan tergolong riskan. Ada beberapa langkah yang harus dipersiapkan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pada umumnya memang benar kalau musim hujan lebih riskan beternak ayam ras. Ini dihubungkan dengan kondisi curah hujan yang tinggi, intensitas cahaya matahari yang menurun sehingga akan menyebabkan kelembaban meningkat dan temperatur rendah, aliran udara sangat cepat dan kualitas air menurun. Kondisi ini menyebabkan jumlah dan jenis penyakit meningkat, ternak rentan terhadap penyakit, pertumbuhan lambat dan keseragaman rendah, serta  kegagalan vaksinasi.

Kamis, 28 Oktober 2010

enterpreneurship

Wirausahawan  adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber-sumberdaya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan sukses. 

kiat menjadi wirausahawan suksek
1. Pintar berkomunikasi
2. Ambisi untuk maju
3. Mau menambah ilmu pengetahuan
4. Membuat keputusan
5. Keyakinan diri
6. Penampilan yang baik
7. Mencapai tujuan dengan menggunakan orang lain
8. Kemauan bekerja keras

Wirausaha identik dengan keinginan membangun suatu usaha mandiri sesuai dengan ketrampilan, kesempatan dan peluang yang ada bagi setiap individu. Keinginan berwirausaha ini tak hanya dilatarbelakangi faktor ekonomi saja.

William A. Ward pernah berkata, "Ada empat langkah mencapai sukses,yakni perencanaan yang tepat, persiapan yang matang, pelaksanaan yang baik,dan tidak mudah menyerah."

Miliki Mimpi!
Obesi dan Hobi
Lihat Kenyataan
Buat Rencana Bertahap
Buat Anggaran
Susun Berbagai Rencana

Minggu, 10 Oktober 2010

INTENSIFIKASI TERNAK AYAM BURAS


1. PENDAHULUAN
Perkembangan ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan ayam
kampung di Indonesia berkembang pesat dan telah banyak dipelihara oleh peternakpeternak
maupun masyarakat umum sebagai usaha untuk pemanfaatan pekarangan,
pemenuhan gizi keluarga serta meningkatkan pendapatan.
Dikarenakan dengan pemeliharaan sistem tradisional, produksi telur ayam buras sangat
rendah, ± 60 butir/tahun/ekor. Berat badan pejantan tak lebih dari 1,9 kg dan betina ± 1,2
~ 1,5 kg, maka perlu diintensifkan. Pemeliharaan yang intensif pada ayam buras, dapat
meningkatkan produksi telur dan daging, dapat mencegah wabah penyakit dan
memudahkan tata laksana.
Sistem pemeliharaan ayam buras meliputi : bibit, pemeliharaan, perkandangan, pakan
dan pencegahan penyakit.

Jumat, 08 Oktober 2010

pratama farm

kandang ayam

kandang ayam peterlur untuk periode layer atau produksi adlah tipe baterai atau cage sehingga ayam dapat berproduksi dengan baik atau tinggi



pratama farm

proses pengambilan telu dilaksanakan pada jam 10 pagi dan jam 12









Rabu, 07 Juli 2010

susahnya mendapatkan DOC


Sandra,  07 Juli 2010
Susahnya mendapatkan DOC
Pada hari senin tepatnya tanggal 5 juli 2010 saya berniat untuk mulai berproduksi lagi ayam broiler karena kandang sudah dibersihkan dan siap ditemapati. Saya bergegas pagi-pagi datang ke salah satu PS (poultry shop) terbesar di bandung untuk membeli DOC, sampai disana hanya lah kekecewaan yg saya dapt karena DOC tidak ada dan kagetnya DOC baru ada setelah lebaran mereka menjelaskan krisis DOC ini akan terjadi sampai akhir tahun 2010. Telah seluruh PS di bandung saya kelilingi dan hasilnya nihil
Pupus sudah harapan akan memepunyai pendapatan menjelang bulan puasa
Akhir-akhir ini harga daging ayam dipasar tradisional maupun pasar modern mengalami kenaikan harga, kenaikan harga ini diakibatkan karena berkurangnya pasokan daging ayam. Peternak yang memproduksi ayam broiler banyak yang mengurangi populasinya atau beristiraht berproduksi sehingga permintaan daging ayam di pasar tidak bisa dipenuhi karena kurangnya supply sehingga terjadi kenaikan harga. Peternak lebih memilih mengurangi populasinya atau berhenti berproduksi karena ketersediaan DOC yang berkurang atau jika adapun harganya cukup tinggi. Keadaan ini dialami peternak di jawa barat terutama di ciamis sebagai central peternakan broiler.
Pasokan DOC dari perusahaan breeding ke peternak dikurangi, mengapa hal ini bisa terjadi ?
Apakah monopoli dari perusahaan besar ?
Atau memang keadaanya harus seperti itu ?
Mungkin petanyaan ini bisa di jelaskan dengan jelas oleh perusahaan breeding.

Perusahaan breeding di indonesia terutama prov. Jawa barat lumayan banyak seharusnya bisa memenuhi kebutuhan akan DOC oleh peternak kecil.

Jumat, 28 Mei 2010

membentuk pulet berkualitas

ayam petelur atau yang sering disebut layer merupakan ayam yang memunyai ppotensi genetik untuk menghasilkan telur dengan baik. untuk berproduksi membutuhkan waktu 6 bulan dari mulai DOC.
layer d bagi menjadi 3 fase yaitu :
1. starter
2. grower
3. layer


*starter
pada fase layer merupakan fase yang sangat kritis. DOC memerlukan Brooder sebagai pengganti induknya yang menghasilkan hangat, fase ini disebut fase brooding. fase brooding selama 3 hari sejak DOC datang ke kandang. indukan yang digunakan yang baik adalah gasolec. fase selama 8 minggu.

*grower
fase ini meru[akan pembentukan pullet yang menentukan kualitas pullet.

*layer
fase produksi

Jumat, 21 Mei 2010

pemeliharaan Broiler

Berhasil atau Tidakkah Pemeliharaan Broiler Anda

Disadari atau tidak, sebuah peternakan ayam juga merupakan sebuah perusahaan. Terlepas dari besar kecilnya populasi ayam yang dipelihara, peternakan pun harus memiliki manajemen yang baik layaknya perusahaan.
Kata manajemen sering didengar saat berbicara mengenai peternakan misalnya manajemen pemeliharaan, manajemen pengobatan dan juga manajemen pakan. Pemakaian kata tersebut dikarenakan manajemen merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan sistem pengelolaan peternakan. Dengan manajemen yang baik, peternakan juga akan berjalan dengan baik.


Lingkup kecil seperti kandang broiler di atas pun membutuhkan manajemen yang baik agar keuntungan maksimal
(Sumber : huha.alteredego.co.nz)

Optimal menjalankan fungsi-fungsi yang termasuk dalam manajemen adalah hal yang harus dilakukan. Salah satu fungsi dalam manajemen ialah fungsi evaluasi.
Evaluasi didefinisikan sebagai proses pengawasan dan pengendalian performa perusahaan untuk memastikan bahwa jalannya perusahaan telah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan (id.wikipedia.org). Bagi peternak, evaluasi sangat membantu dalam menemukan masalah yang ada yang selanjutnya memperbaiki hal tersebut agar peternakan bisa berjalan lebih optimal dibanding sebelumnya.

Indeks Performan (IP) sebagai Parameter Utama

Info Medion kali ini akan mengangkat peternakan broiler sebagai fokus. Hal ini dikarenakan peternakan broiler memiliki waktu pemeliharaan singkat, cepatnya perputaran uang dan banyak dimiliki oleh peternak baik dengan sistem kemitraan maupun mandiri.
Evaluasi pada peternakan juga membutuhkan sejumlah perangkat pengukuran yang dinamakan parameter. Sebagai bahan perbandingan, parameter tersebut dibandingkan dengan standar dari breeder.
Khusus peternakan broiler ada satu parameter utama yang sering dipergunakan untuk mengukur keberhasilan peternakan yaitu indeks performan (IP). Nilai IP digunakan untuk menentukan nilai insentif/ bonus bagi peternak (bagi kemitraan) maupun pekerja kandang. Berikut rumus indeks performan (IP) tersebut.

IP = (100 - D) x BB x 100
         FCR x (A/U)
Keterangan :
IP     : Indeks performan
D     : persentase deplesi (%)
BB   : bobot badan rata-rata saat panen (kg)
FCR : feed conversion ratio
A/U  : umur rata-rata panen (hari)

Standar IP yang baik ialah di atas 300. Oleh karena itu, semakin tinggi nilai IP maka semakin berhasil suatu peternakan broiler tersebut. Menilik rumus IP di atas, untuk menghitung IP dibutuhkan empat parameter lain yaitu:

1. Bobot badan (BB) rata-rata
Rumus ini digunakan untuk mengukur berat badan baik saat kontrol berat badan maupun saat panen. Berikut rumus tersebut :
BB = Bobot timbang (kg)
             Jumlah ayam (ekor)
Bandingkan hasil perhitungan di atas dengan data dari breeder. Idealnya, bobot badan rata-rata kandang lebih besar atau sama dengan standar. Jika bobot badan rata-rata lebih kecil dari standar lakukan beberapa perbaikan misalnya dalam tata laksana pemberian pakan dan pengaturan kepadatan kandang.
Penimbangan berat badan dapat dilakukan secara rutin tiap minggu dan saat panen. Penimbangan rutin tiap minggu dinamakan pula kontrol berat badan. Teknik kontrol badan tersebut ialah mengambil sampel 50–100 ekor tiap kandang secara merata di setiap bagian kandang. Kontrol berat badan merupakan metode penimbangan individu yang berarti seekor ayam ditimbang untuk berat badannya. Sebaiknya gunakan timbangan yang memiliki sensitivitas lebih tinggi agar berat badan ayam perindividu dapat lebih teliti diamati. Kegiatan ini dilakukan pada waktu yang sama tiap minggunya misalnya Senin pagi ketika kondisi tembolok kosong.
Penimbangan saat panen menggunakan metode penimbangan massal karena jumlah populasi yang harus ditimbang banyak. Faktor efisiensi waktu dan tingkat stres ayam menjadi hal yang penting. Secara teknis, penimbangan ayam bisa berbeda misalnya ayam ditimbang sekaligus keranjangnya atau ada juga yang mengikat ayamnya dahulu baru digantung. Ada dua model timbangan yang dapat digunakan sesuai kebutuhan yaitu :
a) Timbangan gantung
Model timbangan ini paling sering digunakan untuk menimbang ayam karena memiliki beberapa kelebihan antara lain lebih praktis, ringan dan mudah dibawa. Lebih praktis karena bisa digunakan untuk menimbang berat badan ayam langsung maupun menggunakan keranjang. Hanya saja, saat menimbang ayam harus diikat kakinya terlebih dahulu agar memudahkan penggantungan ayam.


Contoh timbangan gantung
(Sumber : Dok. Medion)
b) Timbangan duduk
Timbangan duduk cocok untuk mengurangi kematian dan meminimalisir resiko afkir saat penimbangan akibat patah sayap atau kaki. Metodenya ialah timbang keranjang dahulu untuk menentukan berat keranjang, baru kemudian keranjang diisi dengan ayam.
Saat panen, keranjang ayam diisi maksimal 15 ekor (atau tergantung besar ayam dan kapasitas keranjang ayam). Tujuannya ialah menghindari kematian akibat ayam berdesakan dalam keranjang.

2. Rasio konsumsi pakan terhadap peningkatan berat badan atau Feed Conversion Ratio (FCR)
Rumus menghitung FCR ialah :
FCR = Jumlah pakan yang dikonsumsi (kg)
            Berat badan yang dihasilkan (kg)

Dengan kata lain, FCR didefinisikan berapa jumlah kilogram pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram berat badan. Idealnya satu kilogram pakan dapat menghasilkan berat badan 1 kg atau bahkan lebih (FCR ≤ 1). Sayangnya, kondisi tersebut tidak selalu terjadi. Pada broiler biasanya target FCR = 1 maksimal dapat dicapai sebelum ayam berumur 2 minggu (FCR dua minggu ± 1,047-1,071. Setelahnya, FCR akan meningkat sesuai umur ayam.
Breeder biasanya sudah menyertakan standar FCR tiap minggu dalam buku panduannya agar peternak bisa terus memantau FCR ayamnya tiap minggu. Nilai FCR yang sama atau lebih kecil dibandingkan standar, menandakan terjadinya efisiensi pakan yang didukung dengan tata laksana pemeliharaan yang baik. Namun jika nilai FCR lebih besar dibandingkan standar maka mengindikasikan terjadi pemborosan pakan sebagai akibat tidak maksimalnya manfaat pakan terhadap pertambahan bobot badan ayam. Salah satu faktor yang berperan penting menyebabkan hal ini ialah stres. Stres direspon oleh tubuh dengan memobilisasi glukosa untuk diubah menjadi energi dan digunakan untuk menekan stres itu sendiri. Akibatnya, hanya sedikit energi yang diarahkan ke pertambahan bobot badan.

3. Rata-rata umur ayam saat panen (A/U)
Parameter ini menghitung rata-rata umur ayam yang dipanen. Pemanenan yang termasuk ke dalam parameter ini ialah pemanenan ayam sehat pada bobot badan tertentu. Jadi, ayam afkir tidak masuk ke dalam perhitungan ini. Misalnya ada permintaan 600 ekor ayam broiler berat 1 kg kepada peternak broiler yang memiliki populasi 3.000 ekor. Sehingga peternak memutuskan memanen 600 ekor ayam yang sudah mencapai berat 1 kg sedang yang lainnya (2400 ekor,red) tidak. Rumus menghitung A/U ialah :

          A/U =           (U x P)           
                    total populasi terpanen
Keterangan :
U : umur ayam dipelihara
P : populasi ayam yang dipanen
4. Tingkat deplesi populasi
Deplesi populasi atau penyusutan jumlah ayam bisa berasal dari dua hal yaitu kematian dan afkir ayam (culling ayam). Rumus menghitung tingkat deplesi (D) ialah sebagai berikut :

D = Jumlah ayam mati + afkir x 100%
                        Populasi awal
atau bisa juga,
D = Populasi awal - jumlah ayam panen x 100%
                               Populasi awal

Kematian ayam merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari baik karena sakit atau faktor-faktor lain. Biasanya peternakan menetapkan batas maksimal kematian yang dapat ditoleransi yaitu +5% semakin banyak ayam yang mati maka semakin besar kerugian peternak.
Keputusan pengafkiran ayam broiler biasanya karena sakit dan cacat yang ditinjau berdasarkan pertimbangan resiko dan ekonomis di bawah ini.
a) Pertimbangan resiko
Beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan resiko ialah potensi kesembuhan ayam, seberapa parah penyakit ayam, seberapa besar resiko yang dihadapi (kematian dan hambatan pertumbuhan,red) bila ayam lain tertular penyakit tersebut dan resiko kematian.
Ayam yang masih mau makan dan minum serta mau bergerak tentu kemungkinan sembuhnya lebih besar dibandingkan yang sudah tidak mau makan dan minum. Hal serupa juga terjadi jika ayam terkena penyakit yang sulit disembuhkan seperti ND terutama tipe saraf dan AI. Meskipun sembuh, ayam yang sudah terinfeksi penyakit tersebut sulit kembali mencapai produktivitas optimal. Belum lagi, resiko penularan penyakit dan kematian ayam tersebut jika tidak segera diafkir.
b) Pertimbangan ekonomis
Pendeknya umur pemeliharaan broiler adalah alasan utama mengapa pertimbangan ekonomis sangat penting. Salah satu konsekuensi hal tersebut ialah kecenderungan keputusan afkir untuk ayam yang sakit saat mendekati panen dibandingkan melakukan pengobatan. Pertimbangan ekonomis utama ialah terkait dengan berkurangnya keuntungan akibat pengeluaran biaya pengobatan dan pakan selama ayam sakit. Contoh kasus ialah ayam broiler sakit colibacillosis umur 33 hari (panen +35 hari). Dianjurkan ayam tersebut dipanen daripada diobati. Alasannya ialah berat badan ayam sudah hampir mencapai berat penjualan. Dengan penambahan waktu pemeliharaan untuk pengobatan, terjadi penambahan biaya untuk pengobatan dan pakan. Hal di atas belum termasuk resiko penurunan berat badan dan juga kematian ayam.

Pengafkiran ayam perlu juga memperhatikan kondisi ayam yaitu apakah bisa menggapai tempat pakan atau tidak
(Sumber : huha.alteredego.co.nz)

Contoh Perhitungan
Sebuah peternakan ayam broiler komersial dengan hasil recording sebagai berikut:
Populasi awal       : 5.000 ekor
Populasi akhir       : 4.850 ekor
Umur panen          : 28 hari
Berat panen total   : 6.776,4 kg
Jumlah pakan total : 9.400 kg
Berat DOC            : 40 g/ ekor
Ayam mati            : 65 ekor
Ayam afkir            : 85 ekor
Waktu panen
21 hari --> 520 ekor    = 0,82 kg
28 hari --> 3.850 ekor = 1,4 kg
35 hari --> 480 ekor    = 2 kg
maka perhitungannya ialah,
D = (65 + 85) ekor x 100%
          5000 ekor
D = 3 %
(persentase deplesi maksimal = +5%)

Rata-rata BB ayam saat panen
= (480 x 2) + (520 x 0,82) + (3.850 x 1,4) kg
                    3.850 + 480 + 520 ekor
= 960 + 426,4 + 5.390 kg
            4.850 ekor
= 6.776,4 kg
   4.850 ekor
= 1,4 kg/ ekor ayam

FCR =                9.400 kg               
           6776,4 kg – (0.04 kg x 5000)
       = 1,43

A/U = (21x520)+(28x3850)+(35x480)
                     (4850) ekor
      = 27,94 hari
(waktu panen ayam di perhitungan ini ialah 28 hari)

IP = (100% - 3%) x 1,4 kg x 100
                1,43 x 27,94 hari
    = 339,89 (standar IP: ≥ 300)

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, dapat dikatakan bahwa peternakan tersebut telah berjalan dengan optimal. Kesimpulan tersebut diangkat berdasarkan beberapa hal di bawah ini:
  1. Persen deplesi ayam di peternakan (3%) lebih rendah dibanding target maksimal deplesi yaitu +5%. Hal ini disebabkan baiknya tata laksana pemeliharaan, pengobatan, vaksinasi dan juga pakan yang berujung pada rendahnya persentase deplesi.
  2. Nilai A/U (27,94 hari) yang berselisih 0,06 hari dengan umur panen ter-banyak di umur 28 hari dikarenakan penjualan ayam sesuai BB berdasarkan permintaan pasar yaitu pada BB 0,82 kg (520 ekor), 1,4 kg (3.850 ekor) dan 2 kg (480 ekor). Peternak memutuskan untuk menyisakan sebagian ayam untuk dipanen dengan BB 2 kg. Seperti diketahui, masing-masing BB ayam memiliki pangsa pasar tersendiri. Misalnya, ayam BB 0,8-0,9 kg disukai rumah makan dan pasar tradisional sedangkan BB di atas 1,5 kg disukai industri mie instan dan kaldu ayam (www.ppti.usm.my).
  3. Rata-rata BB ayam saat tiga kali panen ialah 1,4 kg. BB panen umur 21 hari (0,82 kg), 28 hari (1,4 kg) dan 35 hari (2 kg) sedangkan standar BB breeder untuk 21 hari ialah 0,801–0,885 kg, 28 hari (1,316–1,478 kg) dan 35 hari (1,879–2,155 kg). Menilik perbandingan di atas, ayam sudah memenuhi standar sejak umur panen 21 hari. Terpenuhinya standar ini sejak panen pertama (21 hari,red) memang patut diusahakan bahkan sejak masa brooding. Lakukan kontrol BB rutin agar ayam yang BB tidak sesuai standar dapat segera dipisahkan dan diberi perlakuan khusus yaitu penambahan jumlah pakan 10% (maksimal +15 g) dan vitamin. Anda bisa mengkombinasikan pemberian vitamin sesuai umur pemeliharaan misalnya Vita Chicks dan Strong n Fit untuk umur 0-1 minggu, Broiler Vita untuk umur 1-3 minggu serta Neobro untuk di atas 3 minggu hingga panen.
  4. Pencapaian IP peternakan tersebut (339,89) sudah sangat baik karena melebihi standar yaitu ≥300. Tingginya IP tersebut menandakan suatu peternakan telah menerapkan sistem manajemen yang cukup efisien dan efektif.

Perhitungan Break Even Point (BEP)
Nilai kualitas performan ayam ditunjukkan dari nilai IP sedangkan untuk nilai rupiah tercermin dari nilai BEP harga. BEP harga digunakan untuk menentukan tingkat harga jual agar mencapai titik impas (tidak untung tidak rugi). Metode ini paling sering digunakan oleh peternak. Seperti diketahui, bahwa harga ayam broiler mengikuti harga pasar sehingga peternak sulit mengatur harga sendiri. Dengan metode BEP harga tersebut, ketika harga jual ayam sudah melewati nilai BEP harga peternak bisa menjualnya. Metode penghitungan BEP ialah sebagai berikut.

BEP = (FCRxBBxP)+DOC+BOP+BVK
                            BB
Keterangan :
BB    : berat badan rata-rata ayam
P      : harga pakan per kg
DOC : harga DOC
BOP : biaya operasional
BV   : biaya pengobatan (vaksin, antibotik, vitamin, desinfektan dsb)

Berikut contoh perhitungan BEP yang mengambil data dari soal sebelumnya untuk 3850 ekor ayam yang dipanen pada umur 28 hari dengan tambahan data berikut:

Jumlah ayam*                            : 4.000 ekor
Total konsumsi pakan*               : 7.399,46 kg
Harga DOC                               : Rp. 3.000,-/ ekor
Harga pakan                             : Rp. 5.350,-/ kg
Biaya operasional pemeliharaan : Rp. 1.600/ ekor
Biaya pengobatan                     : Rp. 300/ ekor
Ket. * termasuk ayam mati dan afkir tapi tanpa ayam yang dipanen tidak pada umur 28 hari

FCR =           7330,4 kg               
           5390 kg – (0,04 kg x 4000)
       = 1,41
(standar FCR umur 28 hari = 1,417 – 1,475)

BEP = ( 1,4 x 1,4 x 5350) + 3000 + 1600 + 300
                                 1,4
       = Rp. 11.043,5/ ekor

Seusai harga jual ayam di peternak per 11 Januari 2010 untuk wilayah Bandung (+ Rp. 10.400,-/kg untuk ayam ukuran <1,5 kg) maka :

HP = HK x BB
     = Rp. 10.400 x 1,4 kg
     = Rp. 14.560,- / ekor
Keterangan
HP : harga jual ayam di peternak per ekor
HK : harga jual ayam di peternak per kg
BB : berat badan rata-rata ayam

Jika nilai BEP lebih rendah dari harga jual ayam, maka peternak untung. Namun jika sebaliknya, peternak rugi. Jadi laba atau rugi dihitung berdasarkan selisih harga penjualan ayam dikurangi BEP.

Laba = HP – BEP
        = 14.560 – 11.043,5
        = Rp. 3.516,5/ ekor ayam

Berdasarkan perhitungan di atas, untuk setiap ekor ayam yang dipanen peternak mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 3.516,5.

Sistem Pencatatan

Sistem pencatatan yang baik akan memberikan gambaran kondisi peternakan yang riil. Sebaiknya sistem tersebut melibatkan peran seluruh pegawai dalam peternakan tersebut.
Komponen utama sistem pencatatan ialah tabel pencatatan (recording) yang berisi kesemua parameter di atas. Secara teknis, membuat suatu tabel pencatatan tidaklah sulit. Pertama-tama buat format tabel recording data harian kandang broiler untuk masing-masing kandang, seperti yang terlihat pada gambar contoh recording data harian kandang di bawah ini. Lalu komunikasikan dengan segenap karyawan di kandang Anda agar selalu mengisi data tersebut.


Contoh recording data harian kandang untuk broiler
(Sumber : Dok. Medion)

Pengisian data tersebut bisa dilakukan saat pegawai kandang memberi makan ayam di pagi atau sore hari. Selanjutnya data harian kandang tersebut dicatat ulang oleh manajer kandang dalam buku catatan harian kandang.
Tahap selanjutnya ialah mengolah data kandang tersebut menjadi diagram garis atau batang. Hal ini akan memudahkan penerjemahan data tersebut. Akan lebih baik jika hasil rekapitulasi data tersebut dibandingkan dengan data standar dari breeder.
Sesuai fungsi evaluasi dalam manajemen, parameter-parameter di atas pun ditujukan untuk mengawasi dan mengendalikan untuk memastikan jalannya peternakan telah berjalan sesuai perencanaan awal. Semoga Anda bisa mengoptimalkannya untuk keberhasilan peternakan broiler Anda. Semoga berhasil.

Contoh alur sistem pencatatan di suatu peternakan broiler
(Sumber : Dok Medion)


Info Medion Edisi Februari 2010
sumber : Medion Online (http://info.medion.co.id).

Kamis, 20 Mei 2010

sejarah


LATAR BELAKANG
seiring dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat tiap tahunnya dan lapangan kerja yang terbatas di indonesia saat ini banyak pengangguran dan akan bertambah tiap tahunnya. Permintaan lapangan kerja yang cukup tinggi dan rendahnya ketersediaan lapangan kerja menyebabkan nilai atau posisi tawar pekerja di indonesia relatif rendah di bandingkan dengan negara berkembang lainnya apalagi jika di bandingkan dengan negara maju, dengan kata lain gaji pekerja di indonesia relatif rendah.

untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya suatu langkah yang mandiri yaitu berwirausaha. sesuai dengan keahlian yang kami miliki yaitu di bidang peternakan. awal produksi yaitu ayam peterlur atau layer dengan populasi 500 ekor. Kami memilih komiditas ayam petelur karena produknya mudah dipasarkan atau dijual, karena telur merupakan makanan protein tinggi yang harga relatif terjangkau oleh masyarakat luas. sehingga permintaannya tidak akan berkurang.

SASARAN
pengembangan usaha merupakan suatu hal yang harus di pikirkan agar usaha tersebut berkangsung lama dan menghasilkan keuntungan. oleh karena itu kami berniat untuk :
1. menambah populasi ayam petelur dan membangun kandang yang lebih luas
2. produksi ayam pedaging
3. Menguasai Pasar terutama yang terdekat dengan Farm
4. Mempunyai restoran yang mengolah produk hasil Produksi
5. membuast suatu pola kemitraan dan menjadi Inti
6. pertanian jagung
7. pabrik pupuk organik
8. membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya

dan masih banyak sasaran lain.